
Metodenya sendiri dengan mengajak anak belajar mendengar musik, bukan membaca notasi. Misalnya Hannah Mei Steury (5) yang belajar biola dua bulan lalu dimana lagu pertama yang diajarkan adalah “Twinkle, Twinkle Little Star”. “Itu nada yang sangat sederhana yang mudah dipelajari oleh telinga. Lalu mereka belajar bagaimana memegang biola dan busur. Kami melakukannya pelan-pelan dan kemudian musiknya dimainkan,” ujar sang guru, Stephanie Flack yang sewaktu kecil juga belajar di sini.
Putri Flack, Shannon yang menyukai musik klasik kini sudah belajar tingkat lanjut. “Dalam musik klasik, kamu bisa mengubah beberapa hal dan memainkannya sesuai keinginan. Saya biasanya mengubah tempo sedikit dan kenyaringan,” ujarnya.
Shin’ichi Suzuki sendiri mengadakan metode ini karena pada dasarnya ia percaya semua anak bisa belajar memainkan musik. Dan tak hanya biola, metodenya kemudian diadaptasi oleh instrumen lain. Secara bertahap anak-anak belajar membaca notasi musik dan akhirnya mereka bisa menampilkan musik yang kompleks. Metode Suzuki tidak menyarankan anak berkompetisi namun mengajak mereka bermain bersama, termasuk tampil di depan publik. Bahkan jika orang tuanya tidak memiliki latar belakang musik, mereka tetap diharapkan memberikan dukugan dan mengjak anak mereka.
“Mereka (anak-anak) lebih sensitif ke suara-suara musik, ” ujar Rhonda Cole yang menjadi guru pertama metode Suzuki di Amerika Serikat 40 tahun lalu. Dia melatih pemain biola untuk menjadi intruktur di Suzuki, tapi menurutnya, mengajar anak-anak bermain merupakan hal yang sangat inspiratif.
Tak jauh berbeda dengan Flack yang sudah mengajar selama 9 tahun, mengaku selalu senang dan gembira melihat perkembangan murid-muridnya. “Cinta mereka pada musik dan melihat betapa mereka menikmatinya adalah penghargaan bagi saya,” ujarnya.





